Kredit properti melambat ke 16,4 persen, KPR hanya tumbuh 4,3 persen
Kredit properti nasional masih tumbuh dua digit, tetapi angka itu menyembunyikan perbedaan besar antarsegmen. Menurut data Bank Indonesia (BI) untuk September 2026 yang diberitakan Kontan, kredit properti naik 16,4 persen secara tahunan menjadi Rp1.703,7 triliun. Pertumbuhan itu melambat dari 18,3 persen pada Agustus.
Pendorongnya bukan KPR
Pertumbuhan terbesar datang dari kredit konstruksi, yang naik 42,3 persen menjadi Rp557,2 triliun, meski melambat dari 49,5 persen sebulan sebelumnya. Kredit real estat, yang biasanya dipakai pengembang, tumbuh 15,5 persen menjadi Rp283,4 triliun.
Sementara itu kredit pemilikan rumah dan apartemen (KPR/KPA) hanya tumbuh 4,3 persen menjadi Rp863,1 triliun. Angka ini sedikit naik dari 4,2 persen pada Agustus, dan menjadi satu-satunya segmen properti yang bergerak naik bulan itu. Secara keseluruhan, kredit perbankan tumbuh 12,7 persen menjadi Rp9.078,2 triliun, turun dari 13,3 persen. Kredit konsumsi naik 4,7 persen, sedangkan kredit kendaraan bermotor masih menyusut 9,7 persen.
Cara membaca angkanya
Data ini adalah agregat nasional, bukan khusus Jabodetabek, dan sumber yang kami baca tidak menjelaskan penyebab perbedaan antarsegmen. Gambarannya, pembiayaan untuk membangun jauh lebih deras daripada pembiayaan untuk membeli. Itu sejalan dengan laporan kami sebelumnya bahwa developer menunda peluncuran township dan beralih ke proyek lebih kecil, di tengah BI Rate yang berada di 5,75 persen. Kami tidak menemukan data KPR khusus Jabodetabek untuk periode yang sama.
Artinya bagi pemilik rumah di Jabodetabek
Bagi calon pembeli, KPR yang tumbuh lambat menandakan bank masih berhati-hati dan banyak orang menahan diri. Di sisi lain, pembeli punya ruang tawar: tanyakan potongan harga, bantuan biaya akad, atau cicilan bunga tetap dari developer. Bandingkan beberapa bank, karena tawaran bunga dan masa bunga tetap bisa berbeda cukup jauh. Hitung cicilan dengan asumsi bunga naik, bukan hanya pada bunga promo.
Bagi yang berencana membangun atau merenovasi sendiri, pembiayaan konsumen juga tidak sedang longgar, sehingga rencana anggaran perlu realistis dan ada dana cadangan. Pembeli unit indent sebaiknya memeriksa kesehatan keuangan developer dan progres pembangunan sebelum membayar uang muka besar. Satu data bulanan belum cukup untuk menyimpulkan arah pasar, jadi pantau rilis BI berikutnya.