News
Properti & Pasar

Harga bahan bangunan naik 9,63 persen, konsumsi semen ikut tumbuh

Redaksi Halora ·

Foto: W.carter / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Biaya membangun rumah makin terasa mahal di tingkat bahan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan indeks harga perdagangan besar (IHPB) kelompok bangunan atau konstruksi pada September 2026 naik 9,63 persen dibanding September 2025.

Apa yang mendorong kenaikan

Menurut rangkuman GoodStats atas rilis BPS, kenaikan itu terutama dipicu aspal, besi beton (baja tulangan), semen, batu pecah, dan pasir. Publikasi tersebut tidak memerinci persentase untuk tiap bahan. Sebagai pembanding, IHPB umum nasional pada bulan yang sama naik 6,76 persen secara tahunan dan 0,62 persen dari Agustus.

Data yang lebih rinci tersedia untuk semen. Indeksnya berada di level 107,01 (2023=100) pada Juni 2026, naik 2,01 persen dari bulan sebelumnya dan 5,62 persen dari setahun sebelumnya. Untuk seluruh bahan bangunan, indeks Juli 2026 berada di 110,98, naik 0,63 persen secara bulanan dan 9,37 persen secara tahunan. Databoks menyebut IHPB per jenis barang sebagai indikator dini biaya konstruksi karena mencerminkan harga di tingkat grosir.

Catatan soal data

Angka ini harga grosir nasional, bukan harga eceran di toko bangunan Jabodetabek. Harga yang Anda bayar bisa berbeda karena ongkos angkut, merek, dan volume pembelian. Kami juga tidak menemukan daftar harga eceran Oktober 2026 yang dapat diverifikasi, sehingga artikel ini tidak mencantumkan harga per sak atau per batang.

Dari sisi permintaan, pemberitaan Kontan yang kami temukan menyebut konsumsi semen domestik naik pada September 2026. Isi lengkapnya tidak dapat kami buka, jadi kami tidak mengutip angkanya.

Artinya bagi pemilik rumah di Jabodetabek

Kenaikan sekitar 9 hingga 10 persen setahun cukup untuk menggeser anggaran bangun atau renovasi, terutama pekerjaan struktur yang banyak memakai besi dan semen. Bila Anda berencana membangun, minta kontraktor merinci rancangan anggaran biaya per item, dan tanyakan apakah harga dikunci atau mengikuti pasar selama pekerjaan berjalan. Klausul eskalasi yang jelas di kontrak mencegah sengketa belakangan.

Pembelian material tidak harus sekaligus, tetapi menunda terlalu lama berisiko bila tren naik berlanjut. Pertimbangkan pula insentif yang masih berjalan, seperti PPN DTP rumah yang berlanjut ke 2027, yang bisa sedikit meredam beban pembeli rumah baru. Untuk rencana bangun atau renovasi, Anda dapat melihat layanan Halora Land sebagai salah satu pembanding.

Sumber